“
mengenang mantan sah-sah saja, tapi jangan keseringan. Karena mengenang adalah
pekerjaan pensiunan[1]”.
Begitulah kira-kira kutipan dari budayawan kondang sekaligus dalang nyentrik
yaitu Sudjiwo Tejo. Banyak orang yang takut akan kesepian hati dikarenakan
terlalu sering mengalami yang namanya patah hati, ada pula penyebabnya karena
ia terus mendamba seseorang yang sulit
dihilangakan dari hatinya lalu ia merasa sebagai seseorang yang paling
tersakiti karena bayangan yang tak mampu hilang dari dalam hatinya. Entahlah,
hati manusia memang angkuh untuk mengerti, ironisnya pada perasaan yang tak
beranjak pergi dari hati yang telah berlalu bisa merubah seseorang tak ingin
mencoba tantangan baru dengan belajar dari hal-hal yang sudah berlalu. Tak
mampu mengerti bagaimana sepi ini akan berlalu tanpa dia yang selalu ia
rindukan. Sebenarnya, disisi lain sepi bukanlah tentang sendiri karena lebih
dari itu sepi-sepi yang sebenarnya adalah berdua tapi tak saling mengerti dan
berdua tapi tak mampu memahami.
Memang tak dapat
dipungkiri bahwa pada era dimasa sekarang ini kebanyakan anak muda telah
mengalami fase dimana ia berpacaran kemudian pada akhirnya gagal ditengah jalan
sebelum mencapai pada titik pernikahan seperti janji-janji yang sering mereka
obrolkan dikala duduk berduaan. Doa dan omong kosongpun sulit dibedakan,
komitmen hubunganpun di umbar di instragram hingga ketika dihadapkan kepada
kenyataan merekapun cemas beserta penyesalan biasanya menghampiri seolah-olah
menyerang pikiran, lupa makan, mood berantakan, dan yang lebih kronisnya lagi
bisa menyebabkan kematian. Tapi bagai mereka yang tidak lebay-lebay amat,
menganggap hal ini biasa saja mungkin karena
mereka masih berpegang teguh pada prinsip orang Bangladesh kuno yang
berbunyi “mati satu tumbuh seribu”
jadi disisi lain ini justru menguntungkanya. Oke, sekarang kita kembali focus
ke petuah budayawan kondang tersebut, yaitu intinya “gagal move on” bahkan ada yang menyebutnya mereka itu bucin ( budak cinta) dan semenjak ada
kata tersebut, manusia sekarang ini jarang menggunakan kata romantis.
Gagal move on…? Sebenarnya apasih penyebabnya? Menurut
curahan hati dari seorang teman saya sendiri yang kebetulan juga mengidap
penyakit sulit membersihkan kenanganya dikarenakan ia telah merasakan sensasi
kepo mantan dan yang lebih menyedihkan lagi ia terjebak pada kenyamanan
tersebut hingga menjadi seperti mengidap penyakit yang kronis stadium akhir.
Menurutnya bahwa sensasi kepo mantan memang betul-betul nagih. Maka tidak
mengherankan jika teman saya ini sangat menikmati hal bodoh ini.
Saya terkadang tidak
paham dengan pola pikir para pesakit cinta
yang memilih merasakan pedih berulang-ulang kali dengan sebuah jalan
menyakitkan. Kepo mantan dengan segala kehidupan barunya. Begini, mereka kan
sudah tau kalau aktivitas kepo mantan ini bisa bikin sakit hati. Akan tetapi,
kenapa kok mereka jadi kayak ketagihan? lantas, melakukan hal tersebut seperti
sebuah kebiasaan? Jadi, apa yang sebetulnya dia cari? rasa sakit tiada henti?
Sebetulnya, kepo lahir
dari sebuah sikap yang sungguh mulia, yakni peduli dengan orang yang kita
kenal. Sayangnya, rasa peduli ini kemudian cenderung terlalu mencari tahu soal
hal-hal yang bikin kita penasaran. Saking tingginya rasa ingin tahu yang
muncul, tidak jarang hal ini bisa menganggu dan menimbulkan masalah bagi orang
lain. Ya. Memang betul, kalau rasa ingin tahu itu baik, sangat baik malah
bagaimanapun juga. Hal inilah yang biasa membuat otak kita terus berkembang setiap harinya.
Namun, kalau rasa ingin
tahu ini menjadi obsesi. Hal ini perlu diwaspadai, karena terobsesi pada
sesuatu juga ada baiknya bagi perkembangan “kemampuan” kita. Tapi, kalau hal
ini justru menganggu aktivitas kita sehari hari bagaimana? Apalagi kalau
sebenarnya rasa ingin tahu itu sendiri sudah menyimpan praduga dan kecurigaan,
bukanya ketika sudah tau sesuatu kita menjadi tenang. Justru, hanya
meninggalkan rasa resah dan gelisah.
Selanjutnya, yang bikin
kepo mantan semakin menyebalkan, dia tidak lagi berbentuk kepedulian pada orang
lain. Sebaliknya, rasa ingin tahu tersebut muncul karena kita ingin
membandingkan hidup kita dengan hidup si mantan saat ini. Begitulah alih-alih
sebagai bentuk peduli, sebetulnya kepo malah Cuma untuk fokus kediri sendiri.
Bagi orang-orang yang sedang patah hati sepatah-patahnya. Kepo mantan adalah
senjata andalan untuk memperjelas keyakinan di kepalanya. Keyakinan soal
berbagai praduga yang rasa-rasanya memang butuh kepastian yang paling pasti.
Meski sebetulnya si kepastian ini sungguh sudah jelas dan nggak perlu
diperjelas lagi.
Sebenarnya kepo mantan
ini dapat disembuhkan karena soal kepo mantan ini, biasanya dilakukan oleh
orang-orang yang belum merasakan betul keamanan dalam hidupnya. Mungkin ada
sebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya terus menerus kepo untuk memuaskan
rasa ingin tahu yang semu itu. inilah yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Supaya rasa aman dihidupnya betul-betul dapat dirasakan. Maka, cukupkanlah
terus berhenti saja mencari informasi untuk semakin menyakiti diri sendiri.
Apapun yang dia lakukan tidak seharusnya membuatmu sakit hati dan merasa sedih
sendiri. Untuk apa semua rasa sakit itu? memangnya kalau kamu sakit dia bakal
balik bersimpati dan menolongmu? Mungkin tidak ! memang benar apa kata Mohammad
Ali ma’ruf “perihal cinta kita semua pemula[2]”
[1] https://m.caping.co.id/news/detail/3065172
[2] Judul buku “ PERIHAL CINTA KITA
SEMUA PEMULA”, karya Mohammad Ali Ma’ruf. Penerbit MOJOK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar